Kamar Dagang dan Industri - Sumatera Utara
Kapankah Perang Dagang AS-Tiongkok Berakhir?

Kapankah Perang Dagang AS-Tiongkok Berakhir?

Kapankah perang dagang Amerika Serikat -Tiongkok berakhir ? Barangkali pertanyaan ini selalu mencuat di benak rakyat Indonesia menyusul perseteruan bisnis kedua negara itu yang hingga sekarang tampaknya terus berlanjut.

“Betapa tidak, akibat perseteruan AS-China soal tarif bea masuk ternyata berimbas terhadap perekonomian dunia.Termasuk Indonesia yang memiliki berbagai komoditas andalan ekspor,” kata Ketua Umum Kadin Sumatera Utara,Drs Khairul Mahalli di Medan saat diminta tanggapannya Sabtu 28/9/2019.

Tiongkok dan AS merupakan negara tujuan ekspor berbagai komoditas andalan Indonesia termasuk dari Sumatera Utara yang potensisl.Bagaimana jika kedua negara raksasa ekonomi ini belum ada kesepakatan dalam berdialog ?

Tentu saja lanjutnya tantangan dihadapi Indonesia ke depan kian berat. Lihat saja daya beli masyarakat makin menurun. Sebagai contoh pedagang toko emas, toko barang grosir, toko pakaian jadi hingga penjualan mobil bekas ikut terkena imbas dengan kondisi daya beli masyarakat yang melorot.

“Tak pelak, pertumbuhan ekonomi di negara-negara di dunia tampaknya menjadi problema yang serius.Indonesia misalnya sudah sangat terasa terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah,” ujar Mahalli.

Bukan cuma itu kata dia, Investasi yang diandalkan pemerintah masih minim. Disusul kinerja ekspor belum menggembirakan. Lantas apa yang akan dilakukan pemerintah Indonesia ? Pemerintah harus mampu mempertahankan stabilitas ekonomi paling tidak di level 5,3 % hingga 2020.

Di samping itu, pemerintah harus membenahi iklim investasi yang lebih kondusif. Termasuk investasi di sektor pariwisata dan UKM dengan regulasi yang ramah. Artinya memangkas birokrasi panjang dan berbelit.

“Sementara sejumlah paket ekonomi yang sudah diluncurkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu harus diterapkan secara mapan di lapangan terutama yang menyangkut kemudahan berinvestasi dan ekspor produk UKM,”ucap Mahalli.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat mengakui ekspor utama Indonesia ke AS terkena dampak kebijakan perdagangan AS-Tiongkok sebagian besar berupa produk manufaktur olahan bentuk barang setengah jadi dan barang jadi.

Namun product similarity analysis dari 60 komoditas ekspor terbesar Tiongkok dan Indonesia ke AS menunjukkan bahwa Sumatera sulit untuk mengambil peluang ini karena ekspor Sumatera untuk produk sejenis sangat minim hanya sebesar 1,4 % dari total ekspor Sumatera ke Amerika.

“Mayoritasnya berupa peralatan elektronik berupa kabel dan lighting equipment,” sebut Wiwiek Sisto Widayat ketika tampil menjadi pembicara pada Pelatihan dan Gathering Wartawan di Simalem Resort, Kabupaten Karo Sumatera Utara, Kamis lalu.(bachtiar adamy)

Sumber: sumaterapost.co

Tinggalkan Balasan